TUGAS paling menjengkelkan di masa SD adalah pelajaran mengarang. Musababnya: batasan kurikulum diperparah pas-pasannya imajinasi sastra Ibu/Pak Guru.
Betapa menyebalkan setiap tahun, menjelang libur, PR mengarang yang diberikan—dan harus disetor bersamaan dengan mulainya masa sekolah— paling banter berputar pada dua topik: kalau bukan libur ke rumah nenek, maka wisata ke pantai. Tiga tahun, setidaknya sejak kelas 4, menulis rumah atau pantai yang itu-itu juga memang bikin mules.
Kawan yang agak kreatif, saat kelas 5, memilih topik berlibur ke rumah nenek dan memasukkan karangan hanya satu kalimat: “Kami tidak pernah berlibur ke rumah nenek karena mereka sudah meninggal dunia.” Dia sukses mendapat jeweren dan berdiri di samping papan tulis hingga lonceng pelajaran usai.
Kreativitas yang sama dipraktikkan kawan lain yang sohor sebagai pemalas bikin PR. Topiknya wisata ke pantai. Hasilnya, dua kalimat: “Di liburan sekolah kami sekeluarga berwisata ke pantai. Karena sedang musim hujan dan ombak, akhirnya piknik dibatalkan.”
Dua kawan itu belakangan meneruskan sekolah hingga perguruan tinggi di jalur eksakta dan—sepengetahuan saya—tak pernah terdengar berhasil menulis sepenggal pun karangan. Tentu surat cinta penuh kembang dan kupu-kupu tidak masuk hitungan.
Dalam pelajaran membual, Mbah boleh menepuk dada. Kesayangan Ibu Guru (yang kebetulan cantik, baik hati, penuh perhatian—kalau dipikir-pikir, barangkali Ibu Guru ini adalah cinta pertamanya Mbah) dan selalu dapat pujian. Lagipula, apa susahnya bercerita?
Bukan karena dapat tugas bikin karangan lalu baru saja Mbah ikut wisata tambang—kerennya: mine tour—di BSI. Sebenar-benarnya pula, jalan-jalan di operasi Tambang Tujuh Bukit ini kebetulan saja. Mbah tanpa sengaja ikut rombongan warga yang mendadak meriah kepingin tahu isi perut BSI setelah goro-goro geolistrik yang masih terus dihadang dan diprotes di Lompongan.
Biasanya yang plesiran harus merogoh kocek. Eh, wisata tambang di BSI sudah gratis, dapat kudapan, makan siang, setelah itu dikasih pula buah tangan (Mbah beruntung dapat tumbler).
BSI nyatanya tidak seseram hantu blau seperti yang belakangan wara-wiri di media sosial. Begitu masuk kawasan operasi perusahaan, para wisatawan tambang (yang bersama Mbah umumnya warga Sumberagung—cukup banyak dari Dusun Pancer) diterima di Kantor Departemen External Affairs (EA), ikut induction (penjelasan), mengenakan Alat Pelindung Diri (APD)—sepatu tambang, rompi, kacamata, dan helm—, lalu naik bus 4×4 (asyik kan?) mengunjungi seluruh areal utama tambang.
BSI nyatanya tidak seseram hantu blau seperti yang belakangan wara-wiri di media sosial. wisata tambang di Tujuh Bukit menunjukkan semua tempat yang selama ini hanya bisa Mbah bayangkan.
Ada pemandu dari BSI yang memberi penjelasan sepanjang pelesiran berlangsung. Wisatawan dadakan seperti Mbah pun boleh bertanya sepuasnya.
Biar tak jadi iklan BSI, pendek kata, wisata tambang di Tujuh Bukit menunjukkan semua tempat yang selama ini hanya bisa Mbah bayangkan sambil menyedot klobot atau pas menyiangi tanaman cabe.
Dari tambang terbuka (namanya pit) melihat alat berat menggaruk batu (ada lagi namanya: ore), yang lalu diangkut ke OPP (Ore Processing Plan). Di sini batu diremukkan (crashing) menjadi sebesar 5–7 cm, diaglomerasi (direkatkan dengan semen), lalu dibawa ke leach pad untuk dihampar.
Hamparan batuan itu kemudian dialiri dengan solusi, lalu ditampung dalam kolam untuk kemudian ditarik kandungan logam berharganya hingga akhirnya keluar sebagai bullion (emas yang masih bercampur logam lain). Fasilitas ini namanya ADR (Absorption, Desorption, and Recovery). Yang sebelumnya batu, setelah masuk OPP dan keluar dari ADR sebagai bullion, masih harus dikirim ke fasilitas pemurnian milik Antam untuk dijadikan emas kadar 99,99%.

Puas lihat bagaimana batuan diubah jadi emas, para wisatawan tambang dibawa melihat fasilitas pembibitan untuk reklamasi dan rehabilitasi lahan, hamparan hijau royo-royo yang sebelumnya adalah areal gersang, pengelolaan air, hingga infrastruktur seperti masjid, mess hall (restoran ala tambang), camp karyawan, pengelolaan sampah (termasuk domestik), dan banyak lagi.
Dalam tiga jam wisata tambang, otak tua Mbah tuntas dibikin terang banyak hal yang jadi sorotan umum berkenaan dengan Tambang Tujuh Bukit. Mana yang fakta, sekadar dugaan, atau justru halusinasi.
Nah, menurut hemat Mbah, dengan pikiran terbuka dan kewarasan yang awas, baik pendukung, mereka yang bersikap netral, atau bahkan penolak tambang, perlu memanfaatkan mine tour yang sudah menjadi agenda tetap BSI ini. Sebab dengan tahu dan paham bagaimana tambang dikelola dengan benar, kita dapat menilai industri ini dengan cara pandang yang adil.
Kan hanya beo yang suka berkoar tanpa pikiran dan akal?[]